Halaman

Selasa, 20 Desember 2011


FRAKTUR

A.  Konsep Penyakit
1.    Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenisnya dan  luasnya. Fraktur terjadi ketika tulang dikenai stress yang besar dari yang dapat diabsorpsinya (Brunner&Suddarth, 2001).Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price&Wilson).
Fraktur terjadi ketika tulang dikenai stress, fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, konstraksi otot eksterem. Meskipun tulang patah jaringan sekitarnya akan terpengaruh, mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, rupture tendon, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah. Fraktur colum femur adalah fraktur yang terjadi pada colum tulang femur  (Brunner&Suddarth, 2001).
2.    Etiologi
Menurut Price & Wilson (2005), Fraktur dapat disebabkan oleh adanya trauma dan patologis:
1.    Trauma langsung (direct)
Fraktur yang terjadi dimana bagian fraktur tersebut mendapat benturan langsung.



b.     Trauma tidak langsung (indirect)
Tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari area benturan.
c.     Fraktur patologis
Fraktur yang disebabkan oleh tumor, infeksi, osteoporosis, malnutrisi dan osteosarkoma.
3.    Lokasi Terjadinya Fraktur femur
Fraktur femur dapat terjadi pada beberapa tempat diantaranya:
a.   Kolum femoris
b.   Trokhanter
c.    Batang femur
d.   Suprakondiler
e.    Kondiler
f.    Kaput
4.   Jenis – Jenis Fraktur
Menurut Brunner & Suddarth (2001), ada beberapa jenis fraktur:
a.    Fraktur komplet
Adalah fraktur atau patah tulang pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran (bergeser dari posisi normal)
b.   Fraktur tidak komplet
Adalah patah yang hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang

c.     Fraktur tertutup (Fraktur single)
Adalah fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit, integritas kulit masih dalam keadaan utuh
d.    Fraktur terbuka (Fraktur komplikata)
Merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membrane mukosa sampai kepatahan tulang. Fraktur terbuka terbuka digradasi menjadi :
-       Grade I      :   luka bersih, panjangnya kurang dari 1 cm
-       Grade II     : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak     yang ektensif
-       Grade III   :  Sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan                            jaringan        lunak yang ektensif, merupakan                            yang paling berat.
Fraktur juga dapat digolongkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang- fraktur bergeser atau tidak bergeser. Berikut ini adalah berbagai jenis khusus fraktur yaitu:
a.    Greenstick, fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya     membengkok.
b.     Transversal, fraktur sepanjang garis tengah tulang, fraktur yang patah atau  garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang.
c.     Oblik, fraktur membentuk sudut dengan garis tengan tulang (lebih tidak stabil dibandingkan transversal)
d.    Spiral, fraktur memutir seputar batang tulang.
e.     Kominutif, fraktur dengan tulang patah menjadi beberapa fragmen
f.      Depresi, fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang wajaah dan tengkorak)
g.     Kompresi, fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
h.    Patologik, fraktur yang terjadi pada daerah tulang yang berpenyakit (kista tulang, penyakit paget, metastasis tulang, tumor)
i.      Avulse, tertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendon pada perlekatannya.
j.      Epifisial, fraktur melalui epifisis
k.     Impaksi, fraktur dimana fragmen tulang terdorong kefragmen tulang lainnya.
5.    Manifestasi klinis
         HTTP:// smartnet-&blogspot.com,( 2008 ), menuliskan manifestasi klinis dari fraktur adalah :
­           Nyeri terus-menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang dimobilisasi.
­           Hilangnya fungsi bagian-bagiannya, tidak dapat digunakan dan cenderung bergerak alamiah.
­           Deformitas
­           Pemendekan ekstrimitaskarena kontaksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur
­           Krepitus
­           Pembengkakan lokal








6.   Patofisiologi 
 
Price & Wilson (2005)
7.    Komplikasi
a.    Komplikasi awal
Ø  Syock
Ø  Emboli lemak
Ø  Syndrome kompartemen
Ø  Infeksi
Ø  Trombo emboli
Ø  Emboli paru
Ø  Koagulopati intravascular diseminata
b.     Komplikasi selanjutnya (lainnya)
         HTTP:// smartnet-&blogspot.com ( 2008 ) menuliskan :
Ø  Mal union
Tidak sempurnanya penyambungan tulang atau pelaksanaan yang kurang baik
Ø  Delay Union
Keterlambatan pada pross penyembuhan
Ø  Non union
Proses penyambungan fragmen-fragmen tidak menyambung dan diantara fragmen tersebut tidak diisi oleh sel fibrotic
Ø  Kekakuan yang dapat terjadi pada sendi dan otot sehingga menimbulkan aktivitas gerak yang tidak normal
Ø  Osteomylitis dan arthritis yang dapat disebabkana oleh bakteri spesifik
8.   Penatalaksanaan Fraktur
        HTTP:// smartnet-&blogspot.com ( 2008 ), menuliskan penatalaksanaan pasien fraktur adalah :

a.   Sasaran tindakan terhadap fraktur
1)     Mengembalikan fragmen keposisi anatomis normal (reduksi)
2)     Mempertahankan reduksi sampai terjadi penyembuhan (imobilias)
3)     Mempercepat pengembalian fungsi dan kekuatan normal bagian yang terkena (rehabilitasi)
b.   Prinsip penanganan fraktur meliputi:
1)     Reduksi fraktur (setting tulang)
        Mengembalikan tulang pada kesejajaran dan rotasi anatomis. Dapat dilakukan dengan 3 cara:
-            Reduksi tertutup
          Pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang keposisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dari fraksi manual
-            Traksi
                          Traksi dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilitas. Beratnya traksi ditentukan oleh spasme yang terjadi, sinar X digunakan untuk memantau reduksi fraktur dan approximasi fragmen tulang. Ketika tulang sembuh, akan terlihat pembentukan kalus kuat, dapat dipasang gips atau bidai untuk melanjutkan imobilitas.
-            Reduksi terbuka
                                 Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrop, plat, paku, atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang.

2)     Imobilisasi fraktur
        Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benr sampai terjadi penyatuan. Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna.
3)     Mempertahankan dan mengembalikan fungsi
        Segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi dan imobilitas harus dipertahankan sesuai kebutuhan. Status neurovaskuler dipantau, kegelisahan, ansietas dan ketidaknyamanan dikontrol dengan berbagai pendekatan. Latihan isometric dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atropi disuse dan meningkatkan peredaran darah.
c.   Factor yang menghambat penyembuhan fraktur
1)     Asupan darah yang tidak memadai ketempat fraktur
2)     Jarak antara fragmen tulang yang ekstensif
3)     Immobilisasi tulang yang tidak memadai
4)    Infeksi
5)     Komplikasi dari penanganan
6)    Kelainan metabolisme
9.   Proses Penyembuhan Tulang
a.   Formasi Hematom
1)     48-72 jam
2)     Darah mengumpul disekitar tulang yang patah sehingga terbentuk hematom
3)     Terbentuk jaringan-jaringan fibrin yang akan menjadi tempat untuk fibrolast berkembang dan membentuk jaringan kapiler baru.

b.   Proliferasi Sel
Beberapa hari berpoliferasi dan differensiasi fibro kartilago, hyaline pada tempat fraktur kemudian menjadi osteogenesis
c.    Formasi Procallus
·       6-10 hari setelah cedera jaringan granulasi berubah menjadi formasi prokalus
·       Terbentuk kartilago dan matrik tulang
·       Terjadi penyambungan ujung tulang dengan cepat tetapi belum kuat
d.   0ssifikasi
·         3-10 minggu kallus berubah menjadi tulang
·         Terjadi kallus yang permanen yang kaku karena terjadi deposit garam kalsium
e.     Konsolidasi dan Remodeling
·         Terbentuk tulang kuat akibat osteoblas
·         Pembentukan tulang sesuai dengan hokum “Wolff’s” struktur tulang terbentuk sesuai dengan fungsinya yaitu ada tekanan dan tarikan waktu sampai 1 tahun.
10.   Penatalaksanaan medik
Ø Pengobatan dan terapi medis
-            Pemberian obat anti inflamasi
-            Obat-obatan narkose, mungkin diperlukan setelah fase akut
-            Obat-obatan relaksan untuk mengatasi spasme otot
-            Bedrest, fisioterapi
Ø Konservatif
    Pembedahan dapat mempermudah perawatan dan fisioterapi agar mobilisasi dapat berlangsung lebih cepat.
             (http://id.wikipedia.org/wiki/Fraktur)
11.   Pemeriksaan Diagnostik
    Menurut Doengos (1999), pemeriksaan diagnostik yang perlu dilakukan pada pasien fraktur adalah :
·         Foto rontgen spinal
·         Elektromiografi
·         Venogram epidural
·         Fungsi lumbal
·         Tanda Ie seque
·         CT-scan
·         MRI
·         Mielogram

B.  Konsep Keperawatan
1.    Pengkajian
       Adapun data dasar pengakajian menurut Doenges (1999) pada pasien fraktur adalah :
a.    Sirkulasi :
Riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vaskular perifer, atau stasis vaskular (peningkatan resiko pembentukan trombus)
b.     Neurosensori :
Gejala     :  Hilang gerakan/sensasi, spasme otot
   Kebas/kesemutan (parestesia)
Tanda    : Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi    (bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan/ hilang fungsi,    agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma    lain).
c.     Nyeri/Kenyamanan :
Gejala   :
·           Nyeri hebat/berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan / kerusakan tulang : dapat berkurang pada imobilisasi) : tidak ada nyeri akibat kerusakan saraf.
·           Spasme/kram otot (setelah imobilisasi)
d.    Integritas Ego
      Gejala   :
·           Perasaan cemas, takut, marah, apatis
·           Faktor-faktor stres multiple, misalnya finansial, hubungan , gaya hidup

Tanda  :
·           Tidak dapat beristirahat, peningkatan ketegangan/ peka rangsang
·           Stimulasi simpatis
e.     Makanan/cairan
      Gejala   :
·           Insufisiensi pankreas/DM
·           Malnutrisi
·           Membran mukosa yang kering (pembatasan pemasukan/periode puasa praoperasi)
f.      Pernapasan
      Gejala   : Infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok
g.     Keamanan
      Gejala   :
·           Alergi atau sensitif terhadap obat, makanan, plester, dan larutan
·           Defisiensi imun
·           Riwayat transfusi darah/reaksi transfusi
                 Tanda  :
·           Munculnya proses infeksi ; demam



1 komentar: